COUNTER CULTURE

Membaca tentang counter culture kita tidak bisa lepas dari sekitar Punk.Pengertian punk sebagai counter culture terhadap budaya mainstream dikemukakan oleh Craig O Hara dalam Philosophy Of Punk, menyebutkan tiga definisi punk yaitu: 1) punk sebagai trend remaja dalam fashion dan musik; 2) punk sebagai keberanian memberontak dan melakukan perubahan; 3) punk sebagai bentuk perlawanan yang “hebat” kerena menciptakan musik, gaya hidup komunitas dan kebudayaan sendiri.

Budaya punk hanya berlaku bagi komunitas mereka sendiri. Punk tidak menyukai bila ada orang yang dari luar komunitas dengan sengaja meniru atau mengenakan segala atribut dan aksesoris yang menjadi identitas punk. Apabila budaya dan gaya hidup punk telah disamai atau diimitasi oleh masyarakat umum, maka punk akan berusaha menciptakan budaya baru yang lain agar terlihat berbeda dengan budaya yang sudah ada.

Dalam sejarah Indonesia counter culture banyak sekali muncul pada masa Kolonialisme,dimana seluruh Nusantara memiliki counter culture sendiri sendiri sesuai dengan sifat perlawanan yang bersifat regional.

Dalam kesusastraan Indonesia modern,Djenar Maesa Ayu adalah seorang yang dianggap menggusung counter culture.Dalam peta konfliktualnya, rancang tanding budaya (counter culture) mengisyaratkan “wajah” perlawanan (resistensi) terhadap relasi kebudayaan yang asimetris, berat sebelah. Perjalanan kebudayaan (dan lebih luas dari itu adalah peradaban ; Pen) memang tak melulu lurus(linier) dan “elegan” sebagaimana sering diperkirakan. Seringkali ada darah yang tertumpah, seringkali ada tragedi yang turut terlibat. Rancang tanding budaya (counter culture) merupakan eksponen yang tak terpisahkan dari semua itu. “Dia” hadir manakala relasi kebudayaan tak lagi memainkan formulasi “keterbukaan” dan saling mengisi. “Dia” mengemuka tatkala dialog kebudayaan yang tampil di permukaan (surface) mengambil format “dominasi-subordinasi” ; yang satu berdiri dengan arogansi yang berlebihan, sementara yang satu lagi meringkuk seperti nyaris tak pernah ada. “Karakter”-nya, katakanlah bila memang pantas disebut demikian, bervariasi dari mulai konservatif hingga radikal sekalipun.

Akan saya kutip sedikit potongan cerpen Djenar Maesa Ayu yang berkenaan dengan hal itu :

“…pada suatu hari ketika sedang asyik menyusu salah satu teman Ayah, ia meraba payudaya saya yang rata. Saya merasa tidak nyaman. Ucapan Ayah bahwa payudara bukan untuk menyusui namun hanya untuk dinikmati lelaki terngiang-ngiang di telinga saya. Saya tidak ingin dinikmati. Saya hanya ingin menikmati…”


 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: