Menggugat Psikologi

Posmodernisme sebagai gelombang intelektual begitu besar pengaruhnya beberapa dekade terakhir. Anti kemapanan tidak hanya menjiwai perkembangan ilmu-ilmu sosial tetapi juga ilmu ilmu pasti lainnya. Pengaruh posmodernisme pada ilmu psikologi justru kian kuat ketika sejak 1990 beberapa perguruan tinggi terkemuka di Amerika Serikat, yang diprakarsai oleh Massachusetts Institute of Technology (MIT), menghapus Departemen Psikologi , dan menggantinya dengan disiplin yang relatif baru, yaitu Departemen Ilmu Kognitif.

Perkembangan ilmu psikologi modern ditopang oleh tiga teori utama. Pertama, ilmu psikologi harus bersifat universal. Artinya, ada beberapa prinsip umum dan juga hukum- hukum kemungkinan, yang bisa dijadikan tolok ukur pengembangan keilmuan. Misalnya studi mengenai persepsi, memori, dan pembelajaran harus mampu mengatasi telikungan faktor sosio-historis tertentu.
Kedua, berbasis pada metode empiris. Karena mengikuti pertimbangan rasional dari filsafat empiris logis, psikologi modern telah pula merasa terikat dengan suatu keyakinan mengenai kebenaran melalui metode. Khususnya, keyakinan bahwa dengan menggunakan metode empirik, dan terutama eksperimen terkontrol, peneliti bisa memperoleh kebenaran mutlak tentang hakikat masalah pokok dan jaringan-jaringan kausal di mana masalah pokok dibawa serta.
Ketiga, riset sebagai lokomotif kemajuan. Derivasi dari asumsiasumsi teoritis terdahulu adalah keyakinan final kaum modernis, sebuah keyakinan terhadap sifat progresif riset. Karena metode empiris diterapkan dalam masalah pokok psikologi, psikolog belajar semakin banyak mengenai karakter dasar. Keyakinan yang salah dapat dihindari, dan psikolog beralih ke arah penegakan kebenaran nilai-nilai netral dan reliabel tentang berbagai segmen dunia yang obyektif .

Dan dalam psikologi postmodern menggugat tiga teori utama diatas, yang pertama tidak ada definisi teori psikologi mana pun yang bersifat universal, semua teori terbentuk dari latar belakang sosiohistoris tertentu. Ngelindur di Amerika sudah dianggap sebagai gangguan psikologis, padahal kita yang hidup di Indonesia menganggap kejadian itu sebagai kewajaran. Kedua, dari universalitas ke refleksi kontekstual. Artinya, ilmu psikologi harus dikembangkan dari fakta-fakta dan pendekatan lokal sehingga setiap fenomena terjaga keunikannya.
Ketiga, marjinalisasi metodeyang artinya metode penelitian hanyalah sekedar alat teropong sarana, bukan tujuan itu sendiri. Dan keempat, mengusung kritik kultural. Ilmu dan teknologi modern telah menyumbang problem-problem serius kemanusiaan yang luput dari perhatian karena hal itu dianggap sebagai risiko yang wajar bagi modernitas—ilmu psikologi posmodern, karena itu, harus bersifat kritis terhadap setiap klaim universal psikologi modern dan juga senantiasa kritis sekaligus peka terhadap dinamika masyarakat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: